Phubbing in Social Solidarity Study (Ethnographic Study Of Social Solidarity Tapping Repong Damar Krui, Pesisir Barat Regency, Lampung Province)

Penulis

  • Ratna Puspitasari IAIN Syekh Nurjati Cirebon
  • Berlin Toni SMP Negeri 10 Pesisir Barat Lampung

DOI:

https://doi.org/10.20527/sscp.v1i1.190

Kata Kunci:

Phubbing, Solidaritas, Ketergantungan

Abstrak

Di masa pandemi, smartphone menjadi kebutuhan mendesak bagi anak muda yang telah mengubah saluran offline menjadi online. Di satu sisi smartphone membawa kemajuan bagi orang-orang dari segala usia, namun disisi lain menciptakan kebiasaan baru, kecanduan smartphone, sehingga mereka sering mengabaikan kehadiran orang lain di sekitarnya, bahkan orang tua mereka di depan mereka. Ini adalah bentuk baru dari perilaku sosial. Lampung Barat memiliki potensi alam yang luar biasa. Damar adalah identitas masyarakat Krui. Damar mata spong meliputi area seluas 17.500 hektar dengan total 1.750.000 pohon damar mata kucing dengan produksi rata-rata 315 ton per tahun yang diekspor ke Italia, India, Bangladesh, Pakistan, dan Uni Emirat Arab dengan tenaga kerja dari berbagai kalangan termasuk kaum muda. Anak-anak muda yang menyadap damar seringkali tampak sibuk dengan gadget di tangan mereka, sehingga mereka tidak memiliki kepedulian atau kepedulian terhadap siapapun di sekitar mereka. Karena sudah menjadi fenomena umum dan simptomatik. Pandemi merupakan kondisi yang tidak pernah berakhir dan membutuhkan solidaritas sosial. Sehingga timbul kontradiksi dalam masyarakat penyadap damar Krui. Penelitian ini menggunakan studi etnografi dengan teori solidaritas sosial oleh Emile Durkheim dan Anthony Giddens. Implikasi teoritis adalah penguatan solidaritas sosial adalah sisi lain dari phubbing, dan implikasi praktisnya adalah revitalisasi etnografi pemuda di Krui.

Diterbitkan

2021-10-02